Wednesday, 16 April 2014

Ingat Wajah, Lupa Nama

Kejadian ini sudah berulang kali terjadi. Mungkin kalian juga pernah mengalaminya.  Bukan mungkin lagi, tapi pasti pernah mengalaminya. Berjumpa, disapa, atau melihat sosok yang rasanya kita sudah mengenalnya, tapi lupa namanya. Kalau lupa namanya, bagaimana bisa menyapa?

Kejadian semacam itu sangat sering saya alami. Yang terbaru adalah tadi sore. Di dalam sebuah angkot pada sore yang syahdu dengan gerimis membasahi bumi. Saya duduk di dalam angkot. Angkot itu masih berhenti alias ngetem demi menunggu penumpang lainnya. Di saat hampir penuh, ada seorang perempuan yang hendak turut menumpang angkot itu. Tapi tunggu, saya seperti mengenalinya.

Karena dia menjadi penumpang terakhir, posisi duduknya berada di dekat pintu. Saya sekilas melihat wajahnya, mengingat-ingat di mana kira-kira saya pernah bertemu dengannya.
‘Ah iya. SMP. Dia temanku sewaktu SMP!’ saya membatin. Tapi masih ragu-ragu. Saya ingin menyapa, tapi tidak berhasil mengingat namanya.

Tiba-tiba seorang ibu yang duduk di sebelah saya hendak turun dari angkot. Setelah ibu itu turun, saya memperbaiki posisi duduk saya. Perempuan itu melihat saya sekilas, tapi tidak bereaksi apa-apa. Kemudian, saya memulai pembicaraan dengan bertanya, “Mbak, asalnya dari Demak ya?”

“Iya. Kok tahu?” jawab dia dan balik bertanya.

Karena kau telah mendemakkan hatiku... Eh, bukan, bukan. Saya tidak bicara begitu!

“Dulu sekolah di SMP 1 ya?” saya tidak menjawab pertanyaannya, tapi malah memberinya pertanyaan baru.

“Iya. Mbak kenal saya?” dia menjawab dengan muka yang terlihat agak bingung.

Sambil nyengir, saya menjawab, “Dulu kita satu SMP.”

“Oiya? Kok aku nggak ingat kamu ya?” terlihat mukanya agak kaget. Di sini mulai ber-aku-kamu.

“Aku juga nggak ingat kamu. Cuma mukanya aja yang familiar.” Saya menjawab sekenanya. Sementara itu, dia cuma ber-“Ooohhhhh,” saja.

Setelah itu saya menyodorkan tangan sambil memperkenalkan diri, “Dian...” Dan dia menjawab, “Lia...”

Secara kompak, kami tertawa bersama.

Setelah itu, dia berujar, “Maaf ya, aku nggak ingat.” Dan saya balas, “Aku juga.”

Setelah itu, pembicaraan mengarah pada jurusan yang kami ambil di kampus. Ternyata dia dari jurusan Ilmu Peternakan. Kemudian, pembicaraan bergeser pada seorang teman SMP kami yang juga kuliah di Ilmu Peternakan. Kebetulan, kami sama-sama mengenalnya.

Oke, itu hanyalah momen awkward yang sering menghampiri saya. Berulang kali. Kalau kata teman-teman, saya punya ingatan yang buruk terkait nama orang. Saya yakin, kalian juga pernah mengalaminya, tapi saya berharap itu tidaklah sering.

Tetapi selain momen lupa nama, saya juga punya kebiasaan yang lebih konyol. Bertemu orang baru, lalu ngobrol ngalor-ngidul, kemudian berpisah, tapi tanpa saling berkenalan. Ini juga bukan sekali terjadi, tapi berulang-ulang.

Saya beri satu contoh. Sekitar empat tahun yang lalu, saat saya masih menjadi mahasiswa baru, saya datang ke kampus untuk mengambil atribut (topi, buku agenda, buku panduan mahasiswa, dan entah apa lagi isinya). Pengambilan atribut itu dipisahkan berdasarkan fakultas, dan tentu saja, saya berbaris di barisan FISIP.

Saat berbaris itulah, sesama pengantre yang berdiri di depan saya, terlihat mengedarkan pandangannya ke berbagai penjuru arah. Hingga akhirnya dia menengok ke belakang dan melihat saya. Kami saling sapa, dan akhirnya ngobrol. Diawali dengan membicarakan jurusan, asal kota, asal SMA, kemudian bla bla bla.... Sampai akhirnya dia sampai di barisan terdepan dan mengambil atributnya.

Setelah dia mendapatkan atribut, dia berbalik dan berpamitan. Tapi, kami sama-sama lupa berkenalan.

Beberapa waktu setelahnya, saya hampir melupakan kejadian itu. Tapi, kami yang berada dalam satu fakultas, sangat mungkin untuk bertemu bukan? Bisa di parkiran, koridor, atau lobi. Nah, saat tidak sengaja bertemu itulah kami cuma bisa bersapa “Hai...”, tanpa mampu menyebutkan nama. Kemudian, tidak ada pembicaraan lagi setelahnya.

Oke. Mari kita bergeser lagi pada kebiasaan buruk saya yang lain. Kali ini menyangkut kesuksesan “calon pekerjaan” saya. Karena, kejadian lupa bertanya nama juga kerap terjadi saat saya menjalankan tugas sebagai wartawan kampus. Terkadang, eh maksudnya sering kali, saat menemukan narasumber, saya langsung bertanya banyak hal. Kemudian, di saat hendak berpisah, kalimat yang biasanya meluncur dari mulut saya adalah, “Terima kasih ya Pak... Maaf, nama Bapak siapa?” Paling tidak, saya harus bersyukur, tidak sampai lupa bertanya nama.

Tapi memang sih, di beberapa kejadian saya sampai lupa menanyakan namanya (atau nama lengkapnya) saat sudah berada di balik  pintu. Kalau sudah begitu, saya harus siap repot ngubek-ngubek buku direktori. Misalnya mencari pembantu dekan sekian fakultas bla bla bla adalah...

Oiya. Ada satu teman yang mengibaratkan lupa bertanya nama saat wawancara (atau menanyakan nama di akhir wawancara) dengan “Nonjok dulu, pakai sarung tinju kemudian”. Dan ya, kurang lebih memang begitu keadaannya. 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa menulis komentar ya :)