Thursday, 21 August 2014

Menyusuri Kenangan Masa KKN

Narsis di pinggi jalan, berlatar belakang Gunung sumbing dan
Gunung Sindoro.
Rasanya sudah lama ya, aku, Vella dan Dhea tidak menghabiskan waktu bersama (maksudnya camping atau jalan-jalan. Kalau sekadar makan bareng mah sering). Makanya, saat berkumpul kembali usai liburan Lebaran, ide bepergian bersama benar-benar tidak kami sia-siakan. Mengenai tujuan, kami memilih berkunjung ke lokasi posko Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang menjadi rumah kami pada Januari-Februari lalu, saat menjalani masa pengabdian. Ceritanya, sekalian silaturahmi pada bapak dan ibu posko.

Kalau dilihat judulnya, kesannya memang lebay ya. Tapi biarin deh ya, yang penting niat (buset, makin lebay aja). Soal rencana kunjungan ke posko, aku dan Vella yang paling semangat. Sedangkan Dhea sedikit ogah-ogahan, karena ya, semacam “hubungan yang kurang harmonis dengan ibu posko”, hehe. Makanya, sejak jauh hari, aku dan Vella sudah memikirkan buah tangan apa yang sekiranya layak dibawa untuk bapak dan ibu posko.


Pada Sabtu, 16 Agustus 2014, kami sudah bersiap untuk kunjungan itu. Pukul 07.00 pagi, Vella sudah tiba di kosanku. Kami menunggu Dhea dengan muka menahan kantuk. Akhirnya, pada pukul 08.11, kami meluncur menuju tujuan pertama: Temanggung.

Dhea dan Vella memilih rute yang melewati Bandungan. Kami juga menyempatkan diri untuk singgah sejenak sambil sarapan di Pasar Sumowono, Bandungan. Oiya, karena suhu Bandungan yang sejuk (plus prediksi suhu Temanggung yang tidak kalah dingin), maka pemakaian sarung tangan dan kaos kaki untuk pengendara sepeda motor, hukumnya wajib yaaa.

Semakin jauh meninggalkan Bandungan, pemandangan yang disuguhkan alam juga semakin indah. Kami bisa melihat keindahan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro selama perjalanan, berkat langit yang begitu cerah. Sepanjang perjalanan, aku dan Dhea terus berteriak kegirangan. Hingga akhirnya, Vella menyampaikan ide ajaibnya, “Kita selfie yuk?”. Gayung bersambut, kami pun segera mengatur posisi agar kedua gunung keren itu turut terfoto. Dengan usaha berkali-kali, akhirnya beberapa foto berlatar pesawahan plus Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro berhasil terjepret.

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Saat Vella berkata poskonya sudah dekat, pikiranku mengawang bahwa jarak tinggal beberapa kilometer lagi. Tapi ternyata, kami masih harus melewati hutan, perkampungan, hutan lagi, perkampungan lagi, hutan bambu, dan pesawahan, sebelum akhirnya sampai di Kecamatan Kandangan, tempat posko Vella berada. Ah, jadi segitu toh, jarak yang masuk kategori “dekat” menurut Vella. Hhmm..

Saat memasuki desa, kami berjumpa dengan Tim II KKN yang sedang mengecat gapura. Iya, desa KKN Vella, Desa Wadas, memang kembali dipilih menjadi lokasi KKN Undip (periode KKN I adalah Januari-Februari sedangkan periode KKN II adalah Agustus-September). Kami menyapa sejenak dan bersalaman dengan seorang adik angkatan di kampus (iyalah, karena yang kami kenal kan cuma dia).
Di depan posko KKN Vella

Ternyata, sesampainya di posko, kami sudah ditunggu ibu posko. Kami beramah tamah sejenak sambil minum teh. Kemudian, jeng jeng, kami mau dibuatkan mi rebus. Kami bertiga langsung berhamburan ke dapur, turut ngeributi ibu posko dan Vella yang tengah memasak. Aku dan Dhea sengaja tidak membantu Vella, karena kami tahu, Vella pasti kangen bantu-bantu ibu poskonya masak, hahaha.
Vella masak mi rebus.

Saat mi rebus sudah siap, kami jadi agak bingung untuk menghabiskannya. Itu karena baru sekitar sejam yang lalu kami sarapan. Apalagi ibu poskonya Vella turut mengambil nasi dan aneka lauk untuk dihidangkan pada kami. Tapi ya, akhirnya kami makan juga sih, meski hanya mi rebus yang masuk ke perut kami.

Setelah dari ibu posko, Vella juga mampir ke rumah Kepala Desa Wadas. Di sana ada ibu kepala desa yang menyambut. Saat kami datang, ibunya langsung ganti baju loh. Saat ditawari minum, kami segera menolak halus, karena strategi kami untuk berhemat waktu adalah tidak terlalu lama di rumah pak kades.

Setelah dari Kecamatan Kandangan, kami meluncur menuju Kecamatan Gemawang, tempat posko KKN Dhea berada. Iya, Vella dan Dhea memang sama-sama ber-KKN di kabupaten yang sama. Hanya beda kecamatan saja. Nah, soal kunjungan itu, sebenarnya, Dhea berulang-ulang menyatakan keraguannya. Tapi ya, kami dorong juga lah, masak sudah sampai Temanggung, tapi tidak mampir ke posko.

Ternyata oh ternyata, dari poskonya Vella, poskonya Dhea jauhnya minta ampun. Saat masuk di sebuah belokan, aku kira poskonya sudah dekat, tapi ternyata... aku tidak melihat rumah atau perkampungan sama sekali. hanya hutan dan persawahan. Tapi lama kelamaan, dari kejauhan terlihat perumahan penduduk yang bergerombol di bukit. Saat aku konfirmasi pemandangan itu adalah desanya, Dhea malah menjawab ragu. “Enggak tahu deh, lupa.” Grrr...

Sepanjang jalan, aku dan Dhea membicarakan soal masa-masa KKN. Dhea tidak percaya aku bisa menetap di posko selama 35 hari, tanpa pulang ke Semarang. Sedangkan aku, dibuatnya lebih tidak percaya, karena dia bisa pulang lima kali selama lima minggu masa pengabdiannya. Tapi tunggu dulu, dengan jarak yang super jauh dan jalan berkelok tanpa penerangan sama sekali, dia bisa loh, pulang ke Semarang sendirian.

Lebih keren lagi, saat Dhea dikunjungi temannya dari Semarang dan diculik teman sekomunitas kami untuk datang ke resepsi salah satu anggota. Pertanyaan besarnya adalah: bagaimana bisa mereka menemukan perkampungan yang tersembunyi sekian kilometer jauhnya dari jalanan kabupaten? Mungkin kalau aku tau rutenya seperti itu, cukup di jarak lima kilometer saja sudah memutuskan balik kanan, hahaha. Nah, jawabannya (ini argumennya Dhea ya) temannya (yang wartawan) berhasil karena kemampuan investigasi. Sedangkan teman sekomunitas berhasil karena kemampuan navigasi. Hmm.. bisa bisa.

Saat memasuki Desa Krempong (plis jangan dibaca “rempong”), Dhea baru memikirkan tentengan apa yang layak dibawa untuk ibu poskonya. Kami masuk sebuah toko, dan kembali dia menimbang-nimbang makanan mana yang akan dibeli.
Di depan posko KKN Dhea.

Saat sampai di lokasi, ibu posko Dhea, yang juga ibu kepala desa sudah menanti. Oiya, sama seperti Wadas, Desa Krempong juga kembali digunakan untuk pengabdian. Nah, di posko KKN itu, ada teman sekantornya Dhea, Yose, jadi beruntunglah, kami di posko itu tidak krik-krik amat. Saat Dhea mengobrol dengan Yose dan ibu poskonya, aku justru asyik mengamati penampilan ibu posko itu. For your information, ibu poskonya Dhea itu kelihatan banget demen perawatan, karena kuku kakinya ternyata dikutek silver dan alisnya berwarna kehijauan. Alamaaakkk..

Nah, di posko Dhea juga kami tidak berlama-lama, dan kami segera menuju Magelang, lokasi posko KKN-ku. Mengenai penempatan KKN, aku dan Dhea kembali bertanya-tanya (ini pertanyaan yang diulang-ulang, dan kalau kemarin kembali diulang, berarti basi banget yak. KKN udah lewat jauh). Kami bertanya-tanya, kenapa Dhea dan Vella bisa barengan, paling tidak satu kabupaten, sedangkan aku terlempar jauh sampai Magelang. Padahal, saat pengumpulan berkas pendaftaran, kami hampir berbarengan loh. Okelah, lupakan saja pembicaraan kami ini.

Saat itu matahari sudah tepat di atas kepala. Dhea dan Vella sampai ngebut banget, mengingat jalanan Temanggung yang lumayan sepi. Saat memasuki kawasan kota, Dhea dan Vella tidak sadar kalau mereka menerobos lampu merah. Hah? Bisa-bisanya. Kami berhenti sampai sekitar empat atau lima meter di depan garis putih. Dan jeng jeng, aku melihat pos polisi di seberang jalan, dengan petugas di dalamnya. Aksi tarik motor pun berlangsung seru, dan kami sukses ditertawakan warga yang berhenti di belakang kami.

Usut punya usut, ternyata Vella memang tidak menyadari keberadaan traffic light. Sedangkan Dhea, dia tahu ada zebra cross, tapi tidak melihat traffic light. Jadilah, kami sukses menerobos lampu merah. Setelah aksi konyol itu, kami tertawa sepanjang jalan.

Oke, mengenai rute ke posko KKN-ku, sebenarnya aku tidak terlalu ingat. Perjalanan ke posko sangat tertolong karena Vella ingat rute dari Temanggung sampai alun-alun Magelang. Sedangkan aku, sedikit ingat jalan ke posko dari alun-alun. Aku hanya ingat kelenteng, KFC gaya Bali, AKMIL, dan SMA Taruna Nusantara. Sudah, itu saja. Sisanya tinggal lurus.

Setiap bertemu pertigaan dan perempatan jalan, aku selalu pakai kata “kayaknya” dan “firasatku” untuk berbelok. Hingga Dhea bereaksi, “Hah?! Firasatmu?!” Kalau sampai salah, maafkan aku ya, temans..

Beruntung, aku tidak menyesatkan kedua sahabatku. Kami sampai dengan selamat di posko, bahkan aku ingat jalan pintas yang tidak mengharuskan kami melewati kantor Kecamatan Salaman dan pasar. Ah leganya, meski perjalanan itu memakan waktu dua jam perjalanan dan meleset satu jam dari estimasi.
Di depan posko KKN-ku.

Sesampainya di posko, kami disambut ibu poskoku tercinta, Mbak Alfi, bersama beberapa kerabatnya di teras rumah. Dan ternyata suasana Lebaran di rumah ini masih terasa. Kursi yang biasanya di ruang tamu masih dibiarkan di teras rumah, sedangkan ruang tamu hanya dilapisi karpet. Aneka makanan ringan juga masih tersedia. Asiknya, hari itu Mbak Alfi ada pesanan makanan untuk acara di Kelurahan, jadi ada sisa makanan enak buat kami, hehe

Yang menarik, di meja makan juga terhidang opor daging dan sambal goreng kentang. Hah? Lebaran kan sudah tiga minggu yang lalu? Dan, ternyata adiknya bapak posko juga dua hari yang lalu pulang dari mudik ke Pekanbaru. Hmm...

Kami di posko sampai sekitar satu jam. Sedihnya, kami hanya ngobrol dengan bapak dan ibu posko, sedangkan anaknya yang imut, Alif, sepertinya sudah melupakan diriku. Hiks. Padahal kan baru enam bulan berpisah. Dia sama sekali nggak mau aku ajak main...

Okeh, saatnya pulang ya. sudah sore. Pulang dari posko, kami menuju alun-alun Magelang. Rencananya, kami akan makan kupat tahu di alun-alun atau menyantap es krim di KFC gaya Bali yang ada di belakang kelenteng. Tapi karena perut baru saja diisi, kamu cukup duduk-duduk saja.

Di alun-alun itu, kami saling bertukar kado. Ya, kado yang sudah kami siapkan sejak Juni lalu, bertepatan dengan ulang tahun Three Journ (oke, ini lebay lagi nggak papa deh ya). masing-masing orang menyiapkan dua kado untuk dua sahabat, jadi bisa saling tukar gitu deh. Saat buka kado, ternyata hadiah yang diterima Vella sungguh bikin ngakak. Dia dapat tali b**a dan kuteks. Dhea dapat kipas dan sisir. Sedangkan aku dapat kipas dan cermin. Oiya, di alun-alun juga, Dhea membagikan oleh-oleh mudiknya: permen jahe.
Isi kado kami.

Setelah puas duduk-duduk, kami bergegas kembali ke Semarang. Ternyata jalanan Temanggung lumayan macet. Dhea dengan jurus salip kanannya bisa dengan cepat meninggalkan Vella. Bersyukur, daerah Ungaran tidak macet-macet banget. Dan kami bisa sampai Semarang dengan selamat.

Oiya, kalau dikalkulasi, kami bepergian sekitar 12 jam, karena sampai di Semarang sekitar pukul 20.00. Kalau dihitung lagi, pembagian waktunya adalah delapan jam di perjalanan dan empat jam di beberapa lokasi kunjungan.


Oke, ini cerita perjalanan kami. Nanti kalau Dhea dan Vella sudah posting tulisan, akan aku bagi link-nya di sini...

8 comments:

  1. Horeeee,aq pertamax.hehehe :P
    Jadi kangen pengen halan-halan sama kalian lagi :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Iya, iya.
      Jadi kamu pengen halan-halan lagi? Oke. Atur jadwal ajaa.. *gaya banget yak*

      Delete
  2. ayo jalan-jalan ke rumahku, dian :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dian mau banget, Kak. Tapi ya, enggak tau kapan bisa ke sana. Meski belum pernah ke sana, dian udah jatuh cinta sama Maluku nih, dari tulisan-tulisan yang dian baca. Pulaunya cantik-cantik :)

      Delete
  3. aku baca tulisan dian yang ini di komputer kantor, ngakak-ngakak goblok ngga merhatiin mas-mas editor lagi ngedit berita. hahaha, betapa gilanya kita gais :D aduduhhh.. semoga masih banyak kesempatan di lain hari yess. aminn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Entah apa yang dipikirkan mas editor ngelihat kamu ngakak nggak jelas gitu, Cut :D
      Oiya, mana nih tulisanmu, biar tak tempelin di sini juga.. :D

      Delete
  4. Replies
    1. Iya. Aku kan nggak tau lokasi poskomu, Num. Makanya, kita ke sana bareng yok :D

      Delete

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa menulis komentar ya :)