Friday, 7 November 2014

Ramah Anak

Suatu malam, aku menjumpai peristiwa yang sebut saja “menggemaskan”. Kejadiannya terjadi di sebuah kedai seafood di kawasan Pasar Kambing. Peristiwanya terkesan sederhana. Tapi, justru karena dianggap sederhana, peristiwa ini seperti terbiasa terjadi.

Di kedai itu, aku menunggu pesanan makanan disajikan. Tak berapa lama aku duduk, bahkan mungkin sebelum memesan makanan, ada bocah sekitar kelas satu atau dua SD, datang ke kedai itu. Dia menghampiri salah satu mas-mas di kedai itu dan langsung mengutarakan niatnya membeli es teh untuk dibawa pulang (sepertinya rumahnya berada di dekat kedai).

Suasana kedai, seperti biasa sewaktu santap malam, sangat ramai. Mas kedai hanya mengiyakan permintaan si bocah tadi. Tiga, lima, hingga sekitar sepuluh menit berlalu, es teh pesanan si bocah itu belum juga dibuatkan.

Sambil memainkan selembar uang Rp 2 ribu, si bocah terus merengek minta dibuatkan es teh.

“Tuku es teeehhhhh (Beli es teh),” kata si bocah sambil merengek.

“Iyo, mengko (Iya, nanti),” jawab mas-masnya, sambil terus membuat es teh di gelas untuk pengunjung yang makan di tempat.

“Saiki! (Sekarang!),” kata si bocah

Mas-masnya tidak menjawab.

Dialog itu terus berulang sampai tiga kali. Mas-mas kedai terus mengaduk es teh dan es jeruk untuk pelanggan.

Tiba-tiba bocah itu berjalan ke luar kedai. Aku perpikir bocah itu sudah frustasi sampai akhirnya memilih balik kanan alias pulang. Tapi ternyata, bocah itu hanya berdiri di luar kedai sambil memainkan tenda yang memisahkan kedai dengan jalanan.

Beberapa saat kemudian, ada ibu paruh baya yang masuk ke kedai. Di belakangnya, ada si bocah yang membuntuti. Terjadi percakapan singkat antara ibu paruh paya dan mas-mas kedai. Tak berapa lama, es teh pesanan bocah itu langsung tersadi dalam kantong plastik dengan sedotan warna kuning. Si bocah itu melenggang keluar kedai sambil menyedot es teh yang memerlukan proses penyajian sekitar 30 menit itu. Sekantong es teh yang bahkan proses meminumnya jauh lebih cepat ketimbang penyajiannya.

Kenapa si bocah harus mendapat perlakuan seperti itu? Demi sekantong es teh, dia memerlukan waktu sedemikian lama. Toh, dia membayar es teh itu, tidak berbeda dengan pengunjung lainnya yang juga memesan minuman. Apa karena yang membeli adalah anak-anak? Apakah permintaan anak-anak sedemikian diabaikan orang dewasa? Entahlah. Tapi sikap mas kedai sama sekali tidak ramah pada si bocah.

Kejadian berbeda terjadi di sebuah angkot. Sekitar pukul 14.00, aku menumpang angkot di kawasan kampus. Sebelum aku naik, di dalam angkot itu sudah ada penumpang seorang mahasiswa perempuan. Aku memilih duduk paling pojok di belakang. Tak seberapa lama angkot berjalan, ada seorang ibu dan putrinya yang aku taksir umurnya 3-5 tahun turut naik angkot.

Aku tahu mereka. Ibu dan anaknya itu adalah pengemis yang biasa aku temui di sekitar kampus. Pakaiannya kumal dengan rambut kemerahan karena terlalu sering terpapar matahari.

Di dalam angkot, terjadi perbincangan antara ibu dan anak tentang pendapatan mengemis mereka hari itu. Hasilnya tidak terlalu banyak. Mereka juga membicarakan para pemilik toko yang angkot kami lewati. Menurut mereka, pemilik toko itu ada yang baik, tapi ada juga yang jahat karena tidak memberi uang. Tapi dari beberapa yang mereka sebutkan, lebih banyak jahatnya. Yang lebih mencengangkan, si ibu memberikan perumpaan “seperti anjing” untuk salah satu pemilik toko ponsel karena pernah mengusir mereka. Reaksi si anak, jelas mengiyakan pendapat ibunya. Astaga, ibu itu mengajari anaknya mengumpat dengan nama binatang. Eh bukan. Lebih tepatnya mengumpamakan orang lain seperti binatang!

Mendengar kalimat itu, aku langsung menoleh ke si ibu. Begitu pula mbak penumpang yang duduk di belakang pak sopir. Kami lantas berpandangan, tapi tidak berkomentar apa-apa.
Si anak mengalihkan perhatian dengan memainkan gelas berisi uang recehan. Tapi, si ibu segera menegur.

“Ojo dinggo dolanan. Mengko nak kecer (Jangan dibuat mainan. Nanti tercecer),” kata si ibu.

Benar saja uang recehan itu tercecer ke lantai angkot hingga menimbulkan bunyi gemerincing.

“Lho kan. Dikandani kok ngeyel (Loh kan. Dibilangi kok ngeyel),” ujar si ibu. Tetapi, sebelum membantu anaknya memungut uang, ibu itu menyempatkan tangannya memukul paha si bocah. Si bocah cuma bisa meringis sambil terus memunguti uang.

Setelah uang terkumpul, si anak menawarkan menyimpan uang di tas kecil yang terselempang di bahunya. Tas itu hanya berisi topi kumal warna merah jambu. Ibunya tidak bereaksi, sehingga si anak langsung memasukkan uang ke tas. Sayangnya, uang recehan itu kembali tercecer. Cubitan kecil segera mendarat di paha si anak, sambil si ibu berkata, “Bocah kok ndableg men (Bocah kok bandel banget).”

Tak seberapa lama kemudian, si ibu berkaata “Medun saiki yok (Turun sekarang yok).”

“Halah. Mengko wae, neng kono (Halah. Nanti saja, di sana).” Aku menyimpulkan si anak masih betah duduk di angkot.

“Neng kene iso entuk akeh (Di sini bisa dapat (uang) banyak),” kata si ibu.

“Mengko wae (Nanti saja),” si anak tidak mau kalah.

“Pokokke nak mengko neng kono ora entuk duit, awas kuwe. Tak ajar lho ya.. (Pokoknya kalau nanti di sana tidak mendapat uang, awas kamu. Aku hajar loh ya), si ibu mulai mengancam.

“Yawes, ayok saiki (Yasudah, ayok sekarang),” si anak menurut perintah ibunya.

Mereka turun dari angkot. Setelah itu, si ibu berkata kepada pak sopir, “Ongkosnya nggak usah ya, Pak?”

Aku tidak bisa melihat reaksi si bapak angkot. Tetapi sewaktu angkot mulai berjalan, ibu tadi setengah berteriak berkata, “Makasih..”


Aku bingung harus berkomentar seperti apa. Pada kenyataannya, masih sulit mencapai setiap hal yang ramah anak-anak. Permainan yang ramah anak, sekolah yang ramah anak, transportasi umum yang ramah anak, rumah tinggal yang ramah anak, sampai perlakuan orang tua yang ramah anak.

4 comments:

  1. Iya, Budi. Kadang kita nggak sadar kalau anak-anak itu pengingat yang ulung. Apa yang dibawa dari kecil, bisa nggak sadar dipakainya sampai tua. Jadi karakter mereka sampai dewasa nanti #sedih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Kayaknya anak kecil memang jadi "menyadar" buat orang-orang dewasa tanggung kayak kita ini, Ay..
      Sedihnya banyak orang dewasa yang mengabaikan karakter anak-anak..

      Delete
  2. Hehehe...aku jadi inget kejadian di cerita yang pertama. Keren, seorang anak kecil bisa sesabar itu buat ngedapetin maunya. Aku sendiri pasti udah langsung balik kanan itu mah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kejadian pertama itu pas kita lagi bertiga ya..
      Iya, demi es teh usahanya sampai segitunya. kalau aku sih mending pulang..

      Delete

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa menulis komentar ya :)