Wednesday, 6 May 2015

Awas Gula!

Saat ini, penyakit gula atau diabetes memang menjadi momok di masyarakat. Penyakit ini tidak mengenal usia, yang berarti siapa saja bisa terkena diabetes. Kata dokter, penyakit itu bisa disebabkan faktor keturunan atau kebiasaan konsumsi gula yang melebihi kebutuhan tubuh. Nah, oleh ibu, saat ini saya sudah diminta mewaspadai diabetes.

Ibu tersadarkan soal bahaya diabetes karena kebiasaan saya makan makanan manis, ditambah kedua orang tuanya (kakek-nenek saya) diduga menderita diabetes. Bagi ibu, kedua hal itu langsung jadi lampu kuning soal konsumsi makanan manis.


Pembicaraan tentang diabetes itu diawali dengan insiden pisang goreng. Saat menemukan pisang di kulkas, saya langsung membuatnya menjadi pisang goreng. Sayangnya, pisang goreng itu berakhir dengan kekecewaan karena adonan tepungnya kurang manis.

Kepada ibu, saya berkata pisang gorengnya tidak enak karena kurang manis. Sore hari, di depan sepiring pisang goreng yang kurang manis itu, berlangsung ceramah tentang bahaya diabetes. Oiya, kebalikan dengan saya, ibu justru suka makanan yang tidak terlalu manis.

Ibu berkata, kebiasaan saya makan makanan manis bisa berbahaya. Ibu bercerita, saat masih sekolah, asupan gula yang diberikan nenek saya sangat besar. Alasannya agar tidak mudah mengantuk dan tidak lemas saat belajar. Untuk anak-anaknya, nenek saya selalu menyiapkan teko berisi teh manis di meja makan. Teko itu selalu terisi dan tidak pernah kosong.

Belum lagi kebiasaan nenek saya membikin jajanan untuk keluarganya. Kata ayah, aktivitas nenek selalu di sekitar dapur dan urusannya berkisar masak-memasak. “Pokokke, ada aja yang dimasak,” begitu kata ayah. Saya jadi sulit membayangkan, berapa sendok gula yang masuk ke perut keluarga nenek saban harinya.

Kakek saya apalagi. Dia maniak kopi. Dalam sehari, dia bisa ngopi empat kali: pagi, siang, sore, malam. Pokoknya kakek tidak bisa dilepaskan dari kopi. Saat ada rapat atau perkumpulan di luar rumah, dia selalu membawa bekal kopi sendiri. Zaman dulu, saat belum ada tumbler termos, dia akan membawa kopi pada botol kaca yang dibungkus rapat menggunakan kertas serupa kantong semen, agar panasnya awet.

Kata ibu, rumah kakek tidak pernah sepi tamu. Setiap hari, ada saja tamu yang datang berkunjung. Biasanya para tamu membawa roti, kue, atau gula dan kopi. Pokoknya rumah kekek tidak pernah mengalami krisis gula dan makanan manis.

Nenek yang bertanggung jawab mengasuh empat anak dan mengurus toko sembako, justru tidak terlalu memperhatikan dirinya sendiri. Kata ibu, nenek jarang makan. Cukup minum teh manis, nenek merasa sudah punya tenaga untuk menjalani segambreng pekerjaan rumah. Untuk camilan saat di toko, kata ibu, nenek malah punya kebiasaan ngemil gula jawa.

Nah, dugaan nenek menderita diabetes itu datang saat ibu mengingat nenek pernah jatuh, yang untuk penyembuhan luka saja harus masuk ke rumah sakit dan perlu proses lama. Kalau itu terjadi pada masa sekarang, saat penyakit gula sedang populer, tentu dokter akan berkata nenek menderita diabetes.

Kalau saya, di samping kekhawatiran membawa bibit diabetes dan kebiasaan makan makanan manis, kata ibu, sejak lahir saya sudah dicurigai (akan sakit sesuatu) karena lahir dengan berat badan 4,5 kilogram. Kata ibuk, itu bukan hal yang wajar (masak sih? mayoritas sepupu dan keponakan lahir dengan berat badan di atas 4 kilogram). Jadi, dengan alasan itulah, saya diminta memperhatikan asupan gula harian. Saya diminta berhitung, maksimal konsumsi tiga sendok teh gula per hari (padahal segelas es teh saja gulanya dua sendok makan alias empat sendok teh).


Sebenarnya, saya justru tidak begitu khawatir tentang diabetes. Alasannya, kadar gula darah ayah dan ibu saya normal. Mereka rutin memeriksakan diri. Sedangkan saya, meski belum pernah memeriksakan diri, sepertinya cukup pede tidak terkena diabetes. Saat menulis tulisan ini saja saya terbayang lezatnya martabak dengan topping lelehan cokelat dan keju. Pakai taburan kismis lebih nikmat.

4 comments:

  1. aku juga agak2 khawatir kena diabets, di... skg bukan cuma org tua ato org gemuk ajah yg bisa terserang, siapa pun, kalau tidak mengontrol asupan gula, bisa kena diabetes...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, Kak Novi.. Dian jadi ikut-ikutan khawatir deh. Mesti langsung memulai ngitung asupan gula deh. Makasih infonya kak..

      Delete
  2. Di,aku jadi meh ketawa baca tulisanmu. Brownies Amanda, Roti Swiss, sama es krim KFC, udah ditengokin belum bulan ini? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, jahat kamu Cil. Kan kamu jadi penghasut utamaku soal makan makanan manis itu.. :(

      Delete

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa menulis komentar ya :)