Saturday, 31 May 2014

Misi Penyejahteraan Sosial di Tengah Keragaman Budaya dan Agama

Sumber: talkleft.com
Sampai tahun ini, sudah ada lebih dari tujuh miliar manusia yang menghuni bumi. Namun, kisaran angka tujuh miliar sepertinya tak akan bertahan lama, sebab diperkirakan jumlah penduduk dunia akan mencapai delapan miliar pada 2025. Ya, ada miliaran jiwa yang semuanya tinggal di bumi. Masalahnya, meski jumlah penduduk dunia terus meningkat, ukuran bumi sama sekali tidak bertambah besar. Tentunya, itu akan membuat bumi semakin sesak oleh manusia.

Menurut lembaga perdamaian dunia PBB, Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang angka penduduk terbesar di bumi ini. Dengan jumlah penduduk mencapai 237.641.326 jiwa, Indonesia berada pada peringkat keempat negara terpadat di dunia. Waw. Apakah ini benar-benar sebuah prestasi? Tunggu dulu...


Setiap kali diadakan sensus, jumlah penduduk Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Penduduk Indonesia yang berjumlah 237.641.326 adalah hasil sensus pada tahun 2010, dengan laju pertumbuhan penduduk mencapai 1,49 persen dalam periode tahun 2000-2010. Melihat tren peningkatan jumlah penduduk yang sedemikian besar, pemerintah bahkan memproyeksikan penduduk Indonesia di tahun 2035 mencapai 305,6 juta jiwa atau naik 28 persen.

Indonesia memang dianugerahi wilayah yang luas untuk dihuni. Namun, apakah wilayah yang sedemikian luas itu otomatis menjamin penduduknya hidup layak? Nyatanya, tidak semudah itu. Perlu waktu lama untuk meratakan pembangunan di negeri ini. Perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa membangun aneka fasilitas di negeri kepulauan ini.

Meski memiliki sekitar 17.000 pulau, ternyata penduduk Indonesia hanya memfavoritkan beberapa pulau saja untuk dijadikan tempat tinggal. Sebut saja kepadatan penduduk di Pulau Jawa yang sudah jauh melampaui pulau-pulau di Indonesia lainnya. Bahkan sejak masa kolonial, Gubernur Stanford Raffles telah berujar bahwa Pulau Jawa tidak lagi mampu menampung lebih banyak penduduk. Bahan yang diperlukan bagi sebuah tata kehidupan yang wajar semakin langka, jumlah penduduk sudah berlebih.

Selama ini, pemerintah bukannya tanpa upaya menyelesaikan masalah itu. Melalui program migrasi, ternyata harapan pemerataan kepadatan penduduk itu masih sulit dicapai. Ini berarti, pemerataan jumlah penduduk juga menjadi pekerjaan rumah yang rumit.

Pemenuhan Kebutuhan Penduduk

Tingginya jumlah penduduk tentunya akan berbuntut panjang. Ada berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi, mulai dari urusan perut, tempat tinggal, akses pendidikan dan kesehatan, sampai lapangan pekerjaan. Hingga kini, masih banyak penduduk Indonesia yang belum bisa hidup layak karena tidak mampu memenuhi berbagai kebutuhan itu.

Selain aneka kebutuhan fisik itu, kita juga perlu memikirkan kebutuhan spiritual. Bertambahnya penduduk, harus pula ditunjang dengan bertambahnya rumah ibadah. Sayangnya, upaya sebuah umat mendirikan rumah ibadah, tak jarang justru memicu konflik. Kesadaran beberapa kelompok untuk bisa hidup berdampingan dengan kelompok yang lain, ternyata masih rendah. Sampai sekarang, masih ada kelompok yang merasa dipersulit jika ingin mendirikan rumah ibadah. Ada pula kelompok yang yang sudah memiliki rumah ibadah, tapi dihancurkan oleh kelompok lainnya. Intinya, belum semua penduduk Indonesia bisa dengan nyaman memenuhi kebutuhan spiritualnya.

Bicara tentang konflik, kita tentu tak bisa tidak melirik latar belakang Indonesia yang sangat beragam. Ya, keberagaman yang seharusnya membuat Indonesia terasa indah, ternyata bagi beberapa kelompok, justru dianggap sebagai pemicu konflik. Ada kelompok agama yang tidak nyaman berdampingan dengan kelompok agama tertentu, ada pula yang kelompok suku yang tidak bisa tenang berdampingan dengan kelompok suku lainnya.

Mungkin karena menganut kultur kolektivisme, penduduk Indonesia lebih nyaman jika hidup di lingkungan yang secara latar belakang sama dengan dirinya. Kemudian, dari rasa nyaman itu, bermunculan kelompok yang mengkhususkan diri berdasarkan suku, agama, atau etnis tertentu. Bermunculan pula permukiman atau kampung yang hanya dihuni oleh kelompok tertentu.

Padahal, dengan berkelompok, bangsa ini justru rentan terhadap konflik. Masalah yang awalnya hanya melibatkan dua orang dari kelompok berbeda, tiba-tiba berubah menjadi konflik antarkelompok. Gesekan sedikit saja, akan sangat mungkin menimbulkan konflik yang besar. Itu karena kelompok-kelompok di masyarakat kita saling menciptakan jarak satu dengan lainnya.

Sebenarnya, masyarakat yang hidup berkelompok bukanlah hal yang aneh. Ada rincian tentang dua makna berkelompok. Salah satunya adalah setiap orang memang dilahirkan dalam masyarakat yang terus berkembang dan telah mempunyai suatu struktur yang pasti, yang kemudian bisa memengaruhi kepribadian seseorang tersebut.

Sadarkah kita, bahwa dengan menciptakan kelompok-kelompok berdasarkan agama, etnis, atau suku itu, Indonesia justru akan terlihat lemah? Ini tak lepas dari sejarah, yang menceritakan tentang strategi pemerintahan Belanda untuk membentuk kampung-kampung khusus berdasarkan status sosial dan etnis. Misalnya ada Pecinan untuk etnis Tionghoa dan Pekojan Kauman untuk keturunan bangsa Timur Tengah. Sementara penduduk asli Indonesia juga sudah disediakan tempat pemisah.

Pemisahan tempat tinggal berdasarkan kelompok status sosial dan etnis itu dilakukan Belanda untuk memecah-belah bangsa Indonesia. Dengan adanya jarak, maka kekuatan yang besar untuk melawan Belanda akan sulit tercapai. Sayangnya, kebiasaan membentuk kelompok berdasarkan etnis dan suku masih terbawa sampai sekarang. Misalnya dengan keberadaan Kampung Bugis, Kampung Jawa, dan Kampung Ambon.

Jadi, Kita Harus Bagaimana?

Unsur kebudayaan merupakan bagian dari Indonesia. Kebudayaan itu adalah hasil warisan zaman dulu, yang mengandung ciri khas keindonesiaan. Sayangnya, biasanya, perbedaan kelompok itu juga berdasarkan pada tradisi budaya yang dianut. Suatu kelompok dengan latar belakang suku yang memiliki tradisi tertentu, merasa tidak nyaman dengan tradisi yang dijalankan kelompok lainnya. Sehingga, perbedaan itu menjadi kian jelas di mata mereka.

Tapi, dengan kekuatan yang serupa, orang-orang dengan kesamaan misi bisa juga membentuk gerakan sosial. Gerakan sosial konsepnya mengenai kesadaran kolektif yang mengikat individu-individu melalui simbol dan norma sosial. Kesadaran kolektif menjadi unsur mendasar dari terjaganya eksistensi kelompok. Memang, melalui kesadaran kolektif, gerakan sosial bisa memunculkan berbagai ketegangan dan konflik. Namun, gerakan sosial juga bisa bersifat positif.

Kesadaran kolektif yang dimiliki setiap anggota bisa digiring ke arah yang lebih baik. Bisa apa saja. Jika kelompok itu sangat perhatian pada budaya, maka mereka bisa mendirikan gerakan sosial yang khusus di bidang kebudayaan. Atau pada kelompok yang peduli pada lingkungan, bisa juga secara bersama menjadi pegiat lingkungan. Hal yang sama juga berlaku untuk bidang-bidang lainnya.

Leluhur kita mewariskan semangat Bhineka Tunggal Ika, yang sekaligus menjadi cita-cita untuk mencapai kesatuan, meski dalam kondisi masyarakat yang heterogen dan berbeda karakter. Jika dulu, para leluhur berkeinginan membangun kesatuan untuk merdeka dari penjajah, kini kita bisa menggunakan semangat yang sama untuk memajukan negeri tercinta ini.

Semangat kesatuan itu tidak boleh luntur. Kita bisa memulai langkah dengan saling berbaur tanpa membedakan agama, etnis, atau suku. Biarlah jutaan penduduk Indonesia ini hidup dengan keanekaragaman tradisi masing-masing, tapi saling menghargai satu sama lain. Karena pada dasarnya, sikap saling menghormati adalah langkah paling mujarab untuk mengatasi konflik. Kita bisa membaharui diri dan kembali mengingat tujuan mulia para leluhur, dengan pengharapan Indonesia semakin maju.


Ayolah, bumi kita sudah sangat renta untuk memikul beban yang justru terus bertambah. Pemerintah sudah memiliki pekerjaan sendiri untuk menekan pertumbuhan penduduk. Sedangkan kita, yang menjadi penduduk negeri ini, sudah seharusnya turut memperindahnya dengan semangat kebhinekaan yang dicita-citakan leluhur. 

Dian Kurniati (diankurniati28@gmail.com)

2 comments:

  1. Suka sama tulisan ini :)
    Semoga makin banyak orang yang sadar akan pentingnya persatuan. Karena semangat Bhineka Tunggal Ika saat ini, sepertinya hanya sekedar menjadi semacam tagline saja ya,Di..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Semoga saja. Rasanya sudah bosen banget ya Vey, membaca berita tentang perpecahan yang terjadi di masyarakat. Semoga semangat kebhinekaan segera terwujud :D

      Delete

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa menulis komentar ya :)