Monday, 4 July 2016

Bulan Puasa, Kantor PMI Ramai Sekali

Bulan Puasa, Kantor PMI Ramai Sekali

Pekan lalu, sepulang liputan, saya sengaja mampir ke kantor Palang Merah Indonesia (PMI) di Kramat. Saat turun dari ojek, saya langsung melongo karena begitu banyaknya manusia di kantor itu.

Saya sengaja memilih hari itu untuk mendonor karena selain memang sudah jadwalnya, tanggal itu adalah hari kelahiran ayah saya. Saya sadari, saya memang beruntung hari itu tidak dijadwalkan meliput ke Parlemen, setelah hari sebelumnya harus berjaga di sana sampai dini hari. Tetapi, suasana kantor PMI yang penuh sesak, jauh di luar ekspektasi saya. Mobil-mobil terparkir di tepi jalan raya sampai dua lapis. Begitu masuk gerbang, di teras gedung sudah banyak orang yang duduk berjajar di kursi plastik berwarna putih.


Saat memasuki pintu masuk, kerumunan manusia sungguh luar biasa padat. Untuk menembusnya saja susah. Sebenarnya, saya tidak langsung mengisi formulir, tetapi langsung berlari ke toilet, yang ada di seberang lobi. Maklum saja, karena ini bulan puasa, saya bersiap donor dengan meminum banyak air saat buka puasa tadi. Efeknya ya jadi sering ke toilet begini.

Usai dari toilet, saya langsung mengisi formulir dan menyerahkannya pada petugas. Biasanya, hanya ada dua orang di depan saya yang menunggu namanya dipanggil. Tapi sekarang, rasanya banyak sekali, saudara-saudara.. Saya mendapat antrean nomor 662, sedangkan saat itu pemeriksaan hemoglobin baru sekira 630-an. Belum lagi nanti mengantre diperiksa dokter. Kemudian mengantre lagi untuk pengambilan darah. Astagaa..

Saat itu, saya berpikir, orang memilih mendonorkan darahnya pada malam hari karena khawatir akan lemas apabila berdonor di siang hari. Padahal mah enggak juga, kalau sejak malam sebelumnya sudah mempersiapkan diri. Tapi tetap saja, situasi yang luar biasa ramai ini sama sekali tidak ada di pikiran saya. Serius, ini sangat lama.

Saya harus membunuh bosan dengan membaca yang 80 persen isinya sudah saya baca. Mau pegang ponsel, sayangnya dayanya sudah hampir sekarat. Akhirnya, saya mencoba duduk tenang di bangku panjang, yang beruntung, saya mendapatkannya. Situasi lobi benar-benar jauh dari kata nyaman. Pengap dan berisik. Berisik karena bunyi dua printer dan puluhan orang yang bersuara.

Saya harus bersabar sekitar sejam untuk bisa dipanggil dan diperiksa hemoglobinnya. Soal hasil, saya tidak pernah khawatir. Pasti aman, karena tiga bulan yang lalu hasilnya 14,4. Selesai cek hemoglobin, saya harus kembali duduk sekitar sejam untuk bertemu dokter dan memeriksakan tekanan darah. Soal tekanan darah, saya yakin juga bagus.

Usai melewati dua pemeriksaan itu, saya bisa masuk ruang donor. Saat memasuki ruangan itu, saya hanya meletakkan tas dan kembali berlari ke toilet. Tak lama kemudian, saya baru menyerahkan kertas hasil pemeriksaan dokter dan mencuci tangan. Sambil menunggu, saya membaca majalah, sampai akhirnya disapa mbak-mbak (seingat saya namanya Rima).

Mbak yang sebut saja Rima itu bertanya, "Mbak, mau donor buat siapa?"

Saya jelas bingung mendapat pertanyaan itu, dan hanya reaksi bodoh yang muncul di wajah saya sambil berkata, "Ha?"

Mbak Rima mengulang pertanyaannya, "Sekarang, mbak mau donor buat siapa?"

"Ya buat siapa saja. Saya masih enggak mengerti dengan pertanyaan itu," saya menjawab sambil nyengir.

Mbak Rima tiba-tiba bercerita, "Aku baru pertama kali ini donor darah, buat ibu temanku."

"Oooo. Donor pengganti ya?"

Mbak Rima cuma tersenyum, dan tak lama kemudian namanya dipanggil petugas.

Saya cuma bisa menyemangatinya dengan berkata, "Semoga berhasil.."

Saat diambil darah, saya sempat mengobrol dengan petugasnya. Petugas itu menjelaskan, saat Ramadan, suasana kantor PMI memang sangat ramai. Kebanyakan ada orang yang anggota keluarganya sedang dirawat di rumah sakit dan memerlukan transfusi darah. Jadilah, kantor PMI ini dipenuhi oleh para keluarga pasien, pendonor pengganti, beserta orang yang menemaninya.

Semuanya mendadak nyambung dengan imbauan lewat pengeras suara yang saya dengar sampai dua kali saat mengantre di lobi tadi. Intinya, petugas PMI meminta orang yang tidak mendonorkan darahnya, baik keluarga pasien atau teman pendonor, agar menunggu di teras dan duduk di bangku putih yang sudah disediakan. Akhirnya, saya mengerti situasi di kantor PMI itu.

Saya jadi ingat, pertama kali saya mendonorkan darah juga sebagai donor pengganti, bukan donor sukarela. Saat itu, sehabis Lebaran, ayah guru saya memerlukan darah untuk operasi. Karena golongan darahnya cocok, saya mengajukan diri sebagai donor dan pengambilan darah terjadi di kantor PMI Semarang di daerah Bulu. Saya pikir, itu salah satu peristiwa yang berkesan saat saya kelas 3 SMA.

Kini, saya semakin menyadari, kebutuhan darah akan selalu menipis saat memasuki Ramadan dan Lebaran. Situasi itu selalu terulang, layaknya momen macet di Brebes saat arus mudik. Unit donor darah di PMI bukannya tanpa siap-siap mengantisipasi kejadian tahunan itu. Sebelum Ramadan, biasanya mereka menggenjot penerimaan darah dengan membuka lapak di berbagai tempat. Saat masuk Ramadan pun, biasanya mereka roadshow ke tempat peribadatan non-muslim untuk menjemput bola, atau di masjid saat malam hari. Intinya, semua itu ditempuh untuk memenuhi kebutuhan darah yang tak mungkin menipis.

Tentu saja, kebutuhan darah tak akan pernah menipis. Pasalnya, jadwal pasien untuk cuci darah, transfusi, atau operasi tak mungkin ditunda. Itu menyangkut nyawa seseorang. Jadi, saat stok benar-benar tipis dan tak banyak donor sukarela, PMI akan memberlakukan donor pengganti. Maksudnya, saat orang harus segera mendapatkan darah, maka harus ada seseorang lainnya yang mendonorkan darah untuk menambal darah di PMI agar stok tak sampai kosong.

Jadi, bagi yang sudah jadwalnya mendonorkan darah, silakan mampir ke kantor-kantor PMI terdekat. Saya yakin, sepulang dari PMI, Anda akan bahagia karena sudah berbagi...


No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa menulis komentar ya :)