Wednesday, 25 June 2014

Tentang Rumah Sakit

lifenews.com
Jujur, aku sangat awam soal kebiasaan dan prosedur di rumah sakit. Tapi, setelah dipikir-pikir, ternyata, ketidakpedulian kita tentang prosedur di rumah sakit bisa merugikan diri sendiri loh. Misalnya saja, kita terlalu gampang mengiyakan setiap anjuran pihak rumah sakit, tanpa menanyakan alternatif lain yang bisa saja diambil.

Aku baru berpikir tentang perlunya memahami prosedur rumah sakit setelah adikku diopname pekan lalu. Sebenarnya, adikku sama sekali tidak berencana opname. Memang, pada Rabu, 18 Juni, dia ke rumah sakit, tapi tujuannya hanya sekadar kontrol. Dia merasa sangat pusing sejak hari Senin. Sebelum ke rumah sakit, dia sempat berobat ke klinik di Semarang dan ke dokter langganan di dekat rumah. Namun hingga Rabu pagi, pusing di kepalanya masih belum hilang, sehingga dia ingin memeriksakan diri ke rumah sakit.

Adikku ke rumah sakit diantar tetangga (entah adikku itu anak ayah-ibu atau tetanggaku). Sayangnya, baru mengantre pendaftaran, mendadak dia pingsan. Menggunakan kursi roda, dia dibawa ke ruang poliklinik syaraf, tapi ternyata dokternya belum datang. Jadilah, adikku dibawa ke instalasi gawat darurat di rumah sakit itu.

Ternyata oh ternyata, tidak banyak yang  dilakukan pihak rumah sakit kepada adikku. Hal itu karena tidak ada yang berani menandatangani kertas yang disodorkan petugas rumah sakit. Setelah siuman, adikku menelepon ibu dan ayah, tapi telepon mereka sibuk dan tidak terangkat. Adikku menghubungiku, bertanya ruangan yang akan digunakannya opname.

Pihak rumah sakit menyatakan, semua ruangan penuh, sementara yang tersisa hanya ruang anggrek alias VVIP. Tapi yang paling menarik adalah peraturan kalau pasien mau dirawat di VVIP, maka si pasien tidak boleh dipindah ke ruangan yang kelasnya lebih rendah. Aturan macam apa ini? Tapi ya, karena adikku yang sebelumnya terlihat sehat tiba-tiba harus dirawat, jelas aku panik dong. Aku ikut bingung, karena itu menyangkut besarnya biaya yang harus dibayarkan. Syukurlah, ibuku kemudian bisa dihubungi dan menyetujui adikku dirawat di ruang anggrek.

Entah pikiran dari mana, setelah melihat kondisi ruang anggrek, aku tiba-tiba berpendapat aturan “pasien yang mau dirawat di VVIP tidak boleh dipindah ke ruangan yang kelasnya lebih rendah” adalah strategi rumah sakit menjual produknya. Pasalnya, di sepanjang lorong ruang anggrek, hanya ada dua ruangan yang dihuni pasien: adikku dan seorang pasien lainnya. Sementara kamar lainnya kosong tak berpenghuni (dilihat dari kosongnya papan identitas pasien di samping pintu dan lampu yang mati). Kemudian aku menyimpulkan ruang anggrek tidak laku.

Adikku dirawat di ruang anggrek sampai di hari ketiga. Di hari ketiga itu, dia rewel karena suasana kamar yang membosankan. Boro-boro ada balkon, pemandangan di luar jendela hanya ada genteng gedung di sebelah. Saat hari mulai siang, adikku mengeluh pusing karena silau melihat cahaya (kata ibuku, sejak masuk rumah sakit, adikku memang sensitif pada cahaya. Padahal dia tetap bersahabat dengan televisi). Tirai jendela langsung ditutup dan lampu kamar diset temaram. Tapi ternyata, dia tetap rewel, bahkan minta pindah ke ruang wijayakusuma (tahun lalu, dia pernah dirawat di ruangan itu). Bagaimana pun caranya! Kalau tidak bisa pindah, dia minta pulang ke rumah.

Agak siang, ada kabar dari sahabat ibuku, bahwa kakak iparnya dirawat  di ruang wijayakusuma di rumah sakit yang sama. Rencananya, kakak-ipar-sahabat-ibuku akan keluar rumah sakit sore itu juga. Jadi, adikku bisa dipindah ke ruang bekas kakak-ipar-sahabat-ibuku.

Ibuku segera mengurus kepindahan itu ke perawat di ruang anggrek. Kemudian, ibuku juga mendatangi ruang wijayakusuma. Ternyata, di sebelah kamar kakak-ipar-sahabat-ibuku kosong alias tak berpenghuni! (entah kosongnya sejak kapan, tapi sepertinya pernyataan rumah sakit bahwa semua ruangan kosong kecuali VVIP adalah hobong).

Akhirnya, setelah makan siang, adikku dipindah ke ruang wijayakusuma (VIP biasa, kelasnya lebih rendah ketimbang VVIP). Oke, aturan tentang “pasien yang mau dirawat di VVIP tidak boleh dipindah ke ruangan yang kelasnya lebih rendah” ternyata juga bohong.

Setelah kepindahan kamar, aku merasakan layanan yang diberikan di ruang anggrek dan wijayakusuma jauh berbeda. Aku tidak ingin membicarakan fasilitas, karena mungkin pembeda masing-masing kelas adalah fasilitas (yang paling aku rasakan soal fasilitas ya kamar dan toilet yang lebih kecil dan ketersediaan koran—di anggrek setiap pagi ada kiriman koran sedangkan di wijayakusuma tidak). Tapi kalau turut membedakan layanan, kok rasanya tidak adil ya, untuk si pasien.

Ada banyak contoh kok. Pertama tentang kebersihan. Di ruang anggrek, sebelum pukul 06.00 pagi, sudah ada petugas yang membersihkan kamar, sedangkan di ruang wijayakusuma pukul 07.30 pagi. Selain itu, soal seprei ranjang pasien (di anggrek seprei rutin diganti sedangkan selama tiga hari di wijayakusuma, seprei adikku tidak diganti). Kedua, tentang keramahan perawat. Di anggrek, setiap pagi dan sore ada rombongan perawat yang mengunjungi kamar dan sepanjang hari ada saja perawat yang menengok pasien, sedangkan di wijayakusuma perawat hanya datang saat dipanggil dan ada kunjungan dokter (menurutku, keramahan perawat bisa memperbaiki mood pasien loh).

Ketiga, layanan memandikan pasien. Di ruang anggrek, tanpa dipanggil, setiap pagi dan sore hari akan ada perawat yang berkata, “Mbak, sekarang waktunya mandi yaaa”, sedangkan di wijayakusuma harus memanggil perawat terlebih dahulu (aku sempat bingung saat harus memandikan dan mencuci rambut adikku sebelum menjalani rekam otak. Keran air panas di kamar mandi mati, tapi kemudian tertolong berkat tanteku yang membawa termos air panas di hari sebelumnya. Aku hampir saja mencuci rambut adikku di wastafel tapi posisinya tetap tidak nyaman, tapi kemudian ada perawat pengantar makanan yang bisa aku tanyai soal layanan itu).

Ternyata, lumayan banyak kan, perbedaan pelayanan itu. Tapi, oke, kita cukupkan saja pembicaraan tentang fasilitas dan layanan. Hal lebih penting adalah anjuran tentang obat, termasuk infus. Aku selalu risih dengan pemberian obat yang sedemikian banyak kepada pasien yang dirawat di rumah sakit. Ada yang diminum dan diinjeksikan ke infus. Aku selalu ingin bertanya tentang keharusan pasien mengonsumsi sekian banyak obat yang diberikan. Tidak ada diskusi tentang obat, termasuk obat yang bisa dijadikan alternatif, misalnya kalau harganya terlalu mahal. Kegunaan obat yang diberikan saja pasien tidak diberi tahu. Tiba-tiba saja ada secawan obat yang harus diminum.

Ada juga tentang infus. Apakah pasien yang dirawat di rumah sakit harus diinfus? Setahuku (sebagai awam) infus itu sebagai tambahan nutrisi untuk pasien. Apakah sebelum memberikan infus, konsumsi makanan pasien juga diperhatikan? Untuk kasus adikku, aku melihat makanan yang masuk ke perutnya termasuk banyak. Sangat banyak, malah. Apakah tetap perlu dikasih infus?

Selain itu, soal jarum dan selang infus, aku masih bertanya-tanya tentang waktu penggantiannya. Ada yang bilang tiga, empat, lima, dan enam hari. Untuk kasus adikku, perawat akhirnya menganti jarum dan selang infus, setelah diminta ibuku. Aaaahhh, aku masih belum mengerti tentang itu.

Hal terakhir yang agak mengganggu adalah saat rumah sakit seperti mendorong pasien agar berlama-lama dirawat di rumah sakit. Selain pasien yang bosan (adikku sampai ngambek), berlama-lama di rumah sakit juga berimbas pada biaya loh. Aku merasakan sulitnya kepulangan adikku kemarin. Alasan rumah sakit mulai dari izin dokter sampai klaim asuransi yang tidak bisa diurus di akhir pekan. Beruntung, ibuku memilih membayar lunas biaya rumah sakit terlebih dahulu dan mengurus klaim asuransi di kemudian hari.


Aku pikir, itu hanya beberapa catatan tentang urusan di rumah sakit. Tulisannya agak panjang ya, tapi ya memang begitu keadaan yang aku amati. Hal terpenting adalah cobalah pahami apa yang disarankan dokter maupun pihak rumah sakit, kalau perlu tanyakan alternatif yang bisa ditempuh. Aku tahu, saat ada anggota keluarga yang sakit, yang ada di pikiran kita hanya tentang kesembuhannya. Apa saja asal orang yang kita sayangi sembuh. Tapi cobalah tidak abai pada hal-hal kecil di sekitarnya yang siapa tahu justru bisa jadi masalah besar (terutama soal biaya).

2 comments:

  1. Adek kamu sakit apa Di? cepet sembuh ya buat adeknya Dian
    Yah begitulah rumah sakit di. Semoga pelayanannya memuaskan ya. Aku juga masih sedih masalah makan pasien yang sudah lama menjadi momok bagi para ahli gizi. Masih banyak pasien yang sudah dapat makan dari rumah sakit tapi tetap jajan di luar karena katanya masakan rumah sakit kurang enak di lidah hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma drop aja kok, madame. Alhamdulillah, ini sudah sehat :D
      Eh iya. Ternyata tulisanku dibaca Bu Gizi nih. Tapi tenang madame, kekhawatiranmu soal pasien yang nggak suka makanan rumah sakit, enggak terjadi pada adekku kok. Dia menikmati semua makanan yang dikasih. Kalau soal dia minta jajanan, itu bukan karena makanan rumah sakit nggak enak, tapi perutnya itu yang minta terus diisi, hahaha :D

      Delete

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa menulis komentar ya :)