Sunday, 14 September 2014

Belajar Sejarah Asik ala Semarang Heritage Race

Di depan makam pahlawan Giri Tunggal.
Apa kamu suka belajar sejarah? Eh, tidak suka? Kenapa? Oh, jadi karena belajar sejarah selalu membosankan dan kuno, kamu jadi tidak suka mempelajarinya?

Sepertinya sejarah memang belum menjadi pelajaran favorit di sekolah-sekolah. Aku mencoba “penelitian” singkat tentang pelajaran sejarah dengan sampel teman-teman sendiri. Hasilnya, aku mendapatkan gambaran tentang ketidaksukaan mereka tentang sejarah. Tapi, sebenarnya ada cara asik untuk belajar sejarah, loh.


Sabtu, 6 September 2014, aku bersama Dhea, Vella, dan Ulil berkesempatan belajar sejarah dengan cara yang benar-benar beda dengan suasana kelas di masa sekolah. Kami belajar sejarah di acara Semarang Heritage Race.

Sebenarnya, acara Semarang Heritage Race adalah proyek karya bidang teman kuliahku (Mamot, Tiwi, dan Jaza) yang bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Sejarah Lopen. Konsep belajar sejarah itu berupa tur keliling kota sambil mengunjungi bangunan bersejarah di Semarang.

Apakah kalian tahu, di Semarang sangat mudah ditemui bangunan kuno yang sarat sejarah. Sampingkan dulu gedung Lawang Sewu dan Gereja Blenduk. Pokoknya selain dua bangunan yang sudah tersohor itu, ada lebih banyak bangunan yang tak kalah keren. Sayangnya, keberadaan bangunan-bangunan kuno itu seperti tersingkir. Nah, dari kondisi itulah Mamot dkk mempunyai misi untuk mengenalkan kembali bangunan kuno di Semarang lewat acara ini. Soal pilihan lokasi yang dikunjungi juga ada alasannya, yaitu mereka ingin menunjukkan bahwa bangunan keren itu bisa diakses dengan gampang.

Ada 10 tim yang berpartisipasi, dengan anggota masing-masing empat orang. Peserta tur diajak berkeliling kota menggunakan kendaraan umum, kecuali ojek dan taksi. Konsep tur sejarah ini, sangat mengutamakan kecepatan dan ketangkasan peserta.

Kesepuluh tim itu beradu cepat menyelesaikan tantangan agar menjadi yang pertama sampai di finish. Setiap tim harus melewati lima pos, yang di setiap posnya telah disiapkan berbagai permainan bernuansa sejarah. Hadianya berupa potongan puzzle dan petunjuk menuju pos berikutnya. Nantinya, puzzle itu bisa dirangkai menjadi kesatuan gambar yang utuh.

Kriteria yang dinilai meliputi kecepatan menuju pos, kekompakan tim, jumlah puzzle yang berhasil dikumpulkan, serta sisa biaya perjalanan. Strategi berhemat mutlak diperlukan, karena bekal perjalanan kami “hanya” Rp 100 ribu. Kesannya lumayan besar ya, tapi kalau untuk transportasi berempat menuju lima lokasi, ya, tetap saja ada kekhawatiran kurang. Oiya, selain uang Rp. 100 ribu, kami juga dibekali empat botol air mineral, roti, dan permen.

Tur ini dimulai di komplek Makam Pahlawan Giri Tunggal, yang juga menjadi pos pertama. Aku dan Vella sampai di makam pahlawan saat suasana masih sepi. Jadi, kami memanfaatkan waktu dengan berkeliling makam. Dari sekian banyak makam di sini, tokoh aku tahu hanya Dr. Kariadi.

Di pos pertama, kami di-briefing oleh panitia dan mendapatkan petunjuk menuju pos kedua. Kami menjadi tim kedelapan yang berangkat menuju pos kedua.

Menuju pos kedua, Makam Thio Siong Liong, sebenarnya kami sempat kebingungan. Saat sudah di luar area makam pahlawan, petunjuk yang terpecahkan hanya “Makam Cina”. Tapi beruntung, Ulil segera berujar, “Gedung Wanita”. Sip, dari situ kami segera mempercepat langkah menuju Gedung Wanita. Karena belum berhasil mendapatkan tumpangan dan merasa sayang jika harus mengeluarkan uang, kami memilih berlari menuju lokasi. Di momen lari-larian ini, sebenarnya aku tidak tega juga dengan Vella karena perutnya sedang bermasalah. Maaf ya, Vella...
Di depan makam Thio Sing Liong
Beruntung, di dekat Gedung Wanita ada panitia yang menyambut, dan kami diarahkan menuju lokasi makam. Permaian di makam itu adalah memindahkan kelereng secara maraton menggunakan sumpit. Dari permainan itu, kami mendapat tiga potongan puzzle, dan petunjuk pos kedua. Kalau petunjuk kali ini lumayan gampang ditebak: Taman Srigunting. Lokasinya di komplek Kota Lama, yang jaraknya lumayan jauh dari Jalan Sriwijaya.

Kalau naik kendaraan, kami bisa dua kali pakai angkot. Tapi ya, sekali lagi, sayang uangnya. Makanya, kami lebih mengusahakan tumpangan saja. Paling tidak sampai separuh jalan, sehingga kalau pun harus naik angkot, ongkosnya tidak terlalu mahal.

Sebelum berangkat, kami sempat bimbang dengan dua pilihan rute: Jalan Pahlawan atau Peterongan. Akhirnya kami memilih rute Peterongan. Vella, Dhea, dan Ulil sudah siap melangkahkan kaki. Tapi aku lebih siap melampaikan tangan memohon tumpangan pada mobil pick up yang lewat. Usaha pertama gagal, tapi usaha kedua berhasil. Mobil pick up hitam milik Pak Giarto bersedia memberi tumpangan kepada kami.
Muka yang selalu sumringah di atas pick up.
Awalnya kami hanya minta tumpangan sampai depan Java Mall. Paling tidak, itu sudah berhemat ongkos untuk satu kali naik angkot, sehingga tinggal tersisa satu kali angkot lagi. Tapi, alangkah baiknya Pak Giarto, karena kami akan diantarkan sampai lokasi. Terima kasih, Pak..

Kami termasuk kelompok yang tercepat sampai di Taman Srigunting. Baru sampai di lokasi, kami langsung dapat penugasan berfoto di depan Kantor Pos Lama yang lokasinya di komplek Pasar Johar dengan waktu lima menit. Apa?! Cuma lima menit?!

Tidak ada waktu untuk protes atau nego. Kami langsung berlari dan melambaikan tangan ke mobil pick up putih. Oke, berhasil. Kami kembali mendapat tumpangan. Sesampainya di depan kantor pos, kami langsung berfoto. Pulangnya, kami kembali melambaikan tangan minta tumpangan pick up. Aduh, kali ini kami sampai agak frustasi. Susah banget! Ya, karena kami berdiri di tepi jalanan yang sangat lebar, sehingga mobil pick up berjalan agak jauh dari kami.

Beruntung, ada mobil pick up pengangkut besi yang mau mengangkut kami. Tapi, masalahnya, saat hendak kembali ke Taman Srigunting, kami teringat bahwa jalur menuju dan dari taman, kondisinya terpisah. Kami sudah sangat berterima kasih pada si bapak karena mengantarkan kami sampai di tempat yang dekat banget menuju taman. Meski begitu kami tetap harus berlari-larian agar segera sampai taman dan memamerkan hasil jepretan di depan kantor pos.

Di pos Srigunting, kami segera dapat petunjuk menuju pos berikutnya: Kantor KAI. Tapi.. sebelum berangkat ke kantor KAI, kami ada tugas citizen journalism tentang sejarah Pasar Johar. Nah, ini nih yang bikin sedikit emosi.

Pertama, karena kami harus kembali lagi ke komplek Pasar Johar. Menuju ke lokasi, tidak ada mobil yang memberi tumpangan, sehingga kami harus berjalanan kaki. Kedua, sangat susah mencari orang yang bersedia diwawancarai tentang sejarah Pasar Johar. Memasuki kawasan pasar, kami langsung menyasar bapak-bapak yang berusia lanjut untuk ditanyai soal sejarah pasar. Tukang kunci, tukang parkir, sampai yang sekadar nongkrong. Di antaranya sekian banyak orang itu, tidak ada yang bersedia ditanyai. Akhirnya kami disarankan bertanya di kantor pasar. Jadilah, hal menyebalkan ketiga adalah kami harus bergumul dengan keramaian di tengah pasar menuju kantor. Artinya, akan banyak waktu yang terbuang di dalam pasar!
Bersama Pak Taufik, Kepala Pasar Johar bagian Tengah
Saat bertemu kepala Pasar Johar bagian tengah, kami ditanyai soal surat tugas. Jedeng!!! Kami pun memohon dan bilang itu adalah tugas kampus. Syukurlah, bapaknya bersedia. Tapi, masalah timbul lagi saat pembicaraan narasumber itu sangat panjang dan susah dipotong.

Usai wawancara tentang sejarah Pasar Johar, kami segera berlari menuju PT. KAI, yang berada di Jalan Thamrin. Kami berjalan sampai Jalan Pemuda. Sampai situ, kami sudah sangat kelelahan.
Karena lokasinya di pusat kota, kami hampir tidak mungkin mendapat tumpangan pick up. Akhirnya, kami memilih angkot. Aku nego, berempat seharga Rp 2 ribu. Iya, aku tahu itu keterlaluan, tapi bapak sopir mengizinkan.

Tapi, alangkah terkejutnya kami, saat ada miss komunikasi dengan bapak sopir. Bapaknya mengira Rp 2 ribu per orang, sedangkan aku memintanya Rp 2 ribu untuk berempat. Akhirnya, dengan nego yang luar biasa gila, kami hanya mengeluarkan uang Rp 5 ribu untuk berempat. Aduh, hal memalukan bukan dengan pak sopir, tapi karena penumpang lainnya menertawakan kami.
Di depan kantor PT.KAI DAOP IV.
Di kantor KAI, kami dipersilakan istirahat, dan menyerahkan hasil wawancara tentang sejarah Pasar Johar. Setelah itu, kami kembali mendapat petunjuk menuju pos terakhir berbunyi, “Makam Dr Kariadi”.

Kami menumpang mobil pick up yang telah memuat banyak barang dan orang di belakangnya. Kami berbincang dengan bapak baik hati bernama Pak Tukiman. Tapi, tumpangan itu hanya sampai di Taman KB (Taman Menteri Supeno). Jadilah, kami berlari menyusuri jalur pedestrian Jalan Pahlawan yang teramat panas di siang bolong menuju Taman Makam Pahlawan.
Puzzle Stasiun Tawang
Sampai lokasi, kami diminta menyusun puzzle dari potongan yang kami kumpulkan sepanjang perjalanan. Kami sempat kebingungan, karena masih kurang beberapa potong. Kami yang awalnya menebak gambarnya adalah Lawang Sewu,  kemudian berubah menjadi Stasiun Tawang.

Kami menutup perjalanan itu dengan makan nasi kotak dan dilanjutkan nongkrong bersama sambil minum es. Ah, sepanjang hari pembicaraan kami tentang perjuangan menyelesaikan tantangan Semarang Heritage Race. Bahkan, Ulil dengan bangganya membacakan puisinya yang terilhami dari dari acara itu.

Tapi, cerita tentang Semarang Heritage Race masih belum selesai, karena ada malam awarding di Museum Ranggawarsito pada Senin, 8 September 2014. Selain awarding, di acara itu juga untuk peluncuran Duta Museum, Museum Mart, peta lokasi sejarah Semarang. Momen awkward saat itu adalah kami memakai pakaian kasual, sementara mayoritas tamu yang datang berpakaian rapi-berbatik. Astagaa...
Penampilan Aljabar.
Mejeng sebentar sebelum awarding.
Aku, Vella, Dhea, dan Ulil duduk di barisan paling depan. Kami menikmati acara yang dimeriahkan Aljabar dan Stand Up Comedy Kota Semarang. Sampai tiba di pengumuman Semarang Heritage Race, pemenangnya adalah.. jeng jeng jeng.. KAMI!!! Iya, kami dinobatkan menjadi pemenang pertama Semarang Heritage Race.

Berkat Semarang Heritage Race, kami jadi ketagihan belajar sejarah. Selain itu, melalui acara ini juga, ada pelajaran berharga yang kami petik. Semua terasa ada benang merah, karena kami merasa banyak hal yang jodoh banget. Kami juga semakin percaya, bahwa masih banyak orang baik di bumi ini, yang kebaikan itu akan terus menular. Tumpangan pick up sampai empat kali sudah lebih dari cukup untuk dijadikan bukti, bukan?

*Maaf jika foto yang terpampang berupa foto narsis kami, karena aku tidak sempat mengambil banyak momen di acara ini.

12 comments:

  1. Hehehe...hidup kelompok BERINGIN!! :D
    Dian, itu makam Thio Siong Liong. Kurang huruf "O".hihihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hidup BERINGIN!!! *loh
      Oiya. Makasih diingatkan. Sudah diperbaiki.. :D

      Delete
  2. kalo aku ke semarang lagi, jadi guideku yah dian....

    aku juga senang loh wisata sejarah. tp gada partnernya... huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap, Kak.. Dian akan ajak kakak keliling Semarang sampai puas, hehehe..
      Tapi kalau dian ke Tual, kakak jadi guide dian juga yak :D *aamiin. Semoga bisa ke Tual..

      Delete
  3. Wah.... keren nih permainannya mba Dian
    Hmm.... bisa jadi referensi untuk membuat diri tertarik akan sejarah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejarah memang asik kok. Apalagi ada banyak tempat bersejarah keren di Makassar :)

      Delete
  4. Wah, keren acara "backpacking"nya. Belajar sejarahnya, hmm...belakangan. Yang lebih menyenangkan sih sebenarnya bisa nge-gembel bareng teman2. Apalagi dapat juara. Selamat! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bikin agenda sendiri aja, Mam. Di Makassar kan banyak tuh, lokasi bersejarah yang asik. Bisa berjelajah ke lokasi itu rame-rame pake pete-pete.. Tapi ya tetep, nggak bisa jadi juara kayak kami, hehehe

      Delete
  5. aku baru baca nih, thole bangettt hahaha :D selamat lah buat kitaa *salaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayo,,, Gimana reaksimu sewaktu baca tulisan ini? Pasti ngakak-ngakak enggak jelas, hahaha :D

      Delete
  6. nah kalau di Jogja event yang sama namanya Raceplorer, kita menyusuri lokasi2 menarik di jogja dari petunjuk yang diberikan, bedanya para peserta yang ikut serta menggunakan sepeda, tahun depan yang ke3 lho
    ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wiiiiiihhh.. Seru tuh, keliling Yogya pakai sepeda. Kak Ranz pasti ikutan ya? Aku nunggu ceritanya aja deh. Kalau aku yang ikutan, pasti rempong banget tuh, bawa sepedanya dari Semarang, haha..

      Delete

Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa menulis komentar ya :)