Showing posts with label Dian. Show all posts
Showing posts with label Dian. Show all posts

Sunday, 30 March 2014

Password


Entah karena faktor apa, aku selalu bermasalah dengan password alias kata sandi. Password apa saja, rasanya aku susah banget untuk mengingatnya.

Biasanya, aku menyusun password dengan kata yang mudah diingat. Kalau pun angka, biasanya juga menggunakan angka yang mudah diingat. Bahkan untuk memudahkan, password-password itu sengaja aku buat sama. Misalnya, hampir semua akun jejaring sosial memiliki password yang sama.

Saturday, 12 October 2013

Gerakan Mubazir

Sebenarnya saya bingung dengan tulisan yang ingin saya buat ini. Entah ada manfaatnya atau tidak. Meski sekali pun tidak bermanfaat, anggap saja saat menulis ini, saya sedang olah raga jari tangan.
Gambar: google

Cerita Tangguh Kereta Angin

“Pada tahun 1800-an, orang-orang Indonesia hanya bisa gigit jari, saat melihat orang Belanda naik sepeda.”
Kalimat itu mengawali dongeng berjudul Samurai Bersepeda pada Minggu, 15 September 2013. Dongeng tentang sepeda itu, disampaikan seorang pemuda Indonesia penggemar sepeda. Pemuda itu diperankan Rangga Riantiarno. Selain pemuda Indonesia penggemar sepeda, dalam dongeng juga ada serdadu sepeda Jepang, yang diperankan Yoga. Keduanya berasal dari Teater Koma.
Pemuda Indonesia penggemar Sepeda

Terkunci di Ruang Jurusan

Rabu, 25 September 2013.
Ruang jurusan yang sepi dan gelap.
 Hari yang sangat cerah (baca: sangat panas) itu, sudah aku jadwalkan untuk nongkrong seharian di kampus. Berangkat dari kosan sudah ada niat untuk langsung ke perpustakaan di ruang jurusan. Iyes, di perpustakaan itu tersimpan harta karun berupa kumpulan laporan magang kakak-kakak angkatan. Ini nih bedanya, kalau skripsi disimpan di perpustakaan fakultas, maka laporan magang dikoleksi perpustakaan jurusan.

Wednesday, 27 February 2013

Puncak Karir atau Puncak Kebahagiaan?

www.google.com

Pasti berat ya, ketika seseorang berusaha mencapai puncak karir yang dinginkan. Pasti banyak pengorbananya.”
Tapi, apakah puncak karir itu menjamin seseorang mencapai puncak kebahagiaannya?
Menurutku, puncak karir itu jadi salah satu indikator kebahagiaan. Tapi memang kebahagiaan nggak selalu bisa diukur dari pencapaian karir sih.”
Mungkin suatu saat, kita akan berada pada posisi sulit untuk memilih puncak karir atau puncak kebahagiaan. Tapi aku yakin, kita semua berharap dua hal itu berjalan beriringan.”

Wednesday, 13 February 2013

Lebih Dekat Mengenal Bosscha


Nama Bossca telah tersemat pada sebuah observatorium di kawasan Lembang sejak 1925 lalu. Observatorium yang berisi teropong pengamat bintang itu dikunjungi rubuan orang tiap tahunnya. Meski diprakarsai oleh Joan George Eradus Gijsbertus Voute, justru Bosscha yang diabadikan sebagai nama observatorium. Ternyata, penamaan itu sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih karena Bosscha lah yang mendanai pembangunan observatorim.

Thursday, 24 January 2013

Keluarga itu Bernama Manunggal



Rasanya baru kemarin, aku kenal dengan sosok-sosok keren yang tidak bisa kutemukan di tempat lain. Rasanya baru kemarin, aku memasuki ruangan redaksi di PKM Joglo itu. Rasanya juga baru kemarin, aku diberi kesempatan memakai baju hitam berlogo Manunggal di dada kiri dan tulisan PERS di lengan kanan. Aku merasakan momen indah itu, karena teradopsi oleh sebuah keluarga bernama Manunggal. Tapi sebelum menikmati kesempatan itu, ada cerita panjang yang mengiringinya.

Saturday, 22 December 2012

Happy Mothers Day, Mom

Mama, mama you know I love you
Mama, mama you’re the queen of my heart
You’re love is like tears from the stars
Mama, I just want you to know
Loving you is like food to my soul

Monday, 5 November 2012

Kapan Terakhir Kita Baca Bobo?

Majalah atau bahan bacaan bisa menjadi bahan yang menarik untuk belajar. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu (aku asumsikan yang baca tulisan ini seusiaku), kita mengenal majalah keren yang ternyata masih populer sampai sekarang. Yes, majalah itu bernama Bobo. Majalah mingguan yang bisa menghipnotis sekaligus mencerdaskan anak Indonesia. #ceileh
Antara Bobo dan Intisari. Hayo, pilih mana...?

Friday, 2 November 2012

Ketika Harus Berkacamata...

Aku nggak mau berkacamata! Sejak masih kecil, aku nggak menginginkan kaca mata. Sama sekali. Sudah banyak dari keluarga besarku yang berkacamata. Aku merasa ada ketidaknyamanan ketika melihat orang berkacamata. Sekarang, aku harus jadi salahsatu dari mereka yang berkacamata.

Kaca mata merah.

Saturday, 22 September 2012

#7 Di Tempo, Aku Belajar... Manajemen Waktu (Tidur)

Aku pernah malu banget dengan Mas Acil karena bangun kesiangan. Waktu itu tanggal 2 Agustus, dan jam 07.30 pagi, ada SMS dari Mas Acil yang menanyakan alamat email. Tapi, aku baru bangun, buka SMS, dan membalasnya setengah jam kemudian. Saat itu, aku masih berjuang mengumpulkan nyawa dari tidur yang hanya 2 jam 30 menit. Nggak berapa lama (dua menit), ada balasan dari Mas Acil; “Coba cek, saya sudah kirim. Kabari ya.”

Monday, 17 September 2012

#6 Di Tempo, Aku Belajar... Kebutuhan Menulis

Tempo bekerja dengan menulis. Media itu berbagi informasi melalui tulisan. Ketika aku di sana, berarti aku harus menulis berita. Menuliskan fakta dengan kemasan yang Tempo “mau”.

Selama sebulan, aku sama sekali tidak mengalami kebosanan akibat rutinitas magang. Pagi berangkat liputan, siang di lapangan, sore pulang kantor, dan malam waktunya pulang kos. Monoton? Tentu saja enggak. Justru sku dapat banyak hal baru ketika berada di lapangan dan kantor. Sangat berwarna. Dari isu yang diliput, sampai tulisan yang dilaporkan.

Sunday, 9 September 2012

#5 Di Tempo, Aku Belajar... Mengendalikan Emosi

Selama magang di Tempo, aku mengalami banyak peristiwa unik dan baru pertama kali. Tempo berbeda dengan kuliah. Isu yang diliput juga berbeda dengan yang aku terima di bangku kuliah. Isu di sini yang langsung berkaitan dengan “masyarakat”, terlebih Jakarta, menjadi pengalaman baru.

Nggak ada liputan yang nggak meninggalkan kesan. Kenangan tentang peristiwa dan isu yang diliput, akan lebih diingat jika menumbuhkan emosi tertentu. Senang, sedih, takut, marah, semua bisa dirasakan ketika di lapangan. Selain pengalaman yang aku tulis di #3 Di Tempo, Aku Belajar... Jurnalisme Empati , ada banyak kejadian lain yang mengaduk emosi.
Ilustrasi

Thursday, 6 September 2012

#4 Di Tempo, Aku Belajar... Safari Stasiun dan Terminal

Banyak hal seru dan menarik yang terjadi ketika memasuki bulan Ramadan. Jelang musim mudik, semakin banyak cerita dikemas kota besar yang akan ditinggalkan penghuninya. Jakarta dengan mayoritas warga pendatang, menjadi salahsatu kota yang terlihat sibuk jelang Lebaran.
Foto: Tempo.co
Antrean calon penumpang di loket Stasiun Pasar Senen, Jakarta
Isu seputar mudik atau pulang kampung ini sangat dicari oleh kompartemen Metro di Tempo. Sebagai Magangers, aku pasti juga akan dilibatkan. Tanggal 19 Juli, setelah peliputan di Masjid Agung Sunda Kelapa, Mas Acil memintaku meluncur ke stasiun Gambir untuk mengecek kesediaan tiket kereta untuk mudik.

Tuesday, 4 September 2012

#3 Di Tempo, Aku Belajar... Jurnalisme Empati

Menjadi wartawan tidak selamanya kaku dan formal. Wartawan harus mengetahui momen di mana dia bersikap kaku dan sebaliknya. Ketika di lapangan, wartawan tidak hanya mengejar berita, tapi juga mempelajari apa yang dia temukan.

Tanggal 27 Juli, aku diminta melihat kondisi korban kebakaran di Jembatan Besi, Tambora. Menuju lokasi itu, ternyata lumayan sulit. Berangkat dari Kebayoran, aku memilih busway karena alasan kepraktisan. Namun, rute jalan yang membingungkan, akhirnya membuatku melanjutkan perjalanan menggunakan angkot dua kali.
Foto: Antara

#2 Di Tempo, Aku Belajar... Profesi Wartawan

Setelah mengikuti acara launching Menjadi Indonesia dari Tempo Institute (Baca: #1 Di Tempo, Aku Belajar... Keluarga Baru ), aku datang ke kantor Tempo di Kebayoran pada Senin, 16 Agustus. Mbak Mardiyah, Mbak Icha, dan awak Tempo Institute lainnya yang tahu aku berminat di jurnalistik, langsung mengusahakan agar aku bisa magang di redaksi Tempo.
Di akhir magang, Dian berfoto bersama Mas Acil, Mas Seno, Pak Komang, dan Mas Yandi (dari kiri).
Sedangkan anggota keluarga lainnya, berfoto terpisah.

#1 Di Tempo, Aku Belajar... Keluarga Baru

Sebulan berada di Tempo, kompartemen Metro, ada banyak pelajaran yang aku terima. Mulai dari penerapan ilmu jurnalistik, penulisan berita, sampai suasana kerja wartawan yang baru kali ini aku rasakan.

Magang ini dimulai tanggal 12 Juli lalu, dan aku mengawalinya dengan bergabung di acara launching Menjadi Indonesia. Program ini merupakan sebuah kompetisi esai mahasiswa, yang intinya merangsang pemuda bangsa berpikir untuk kemajuan negerinya. Acara tahunan yang digelar sejak 2009 itu diadakan oleh Tempo Institute lho, tempat aku magang.
Foto: tempo-institute.org
Pengisi acara launching Menjadi Indonesia

Friday, 22 June 2012

Inilah, Dian...


 
Salam jumpa dan kenal semua… Saya Dian. Lahir ditengah latar belakang suku Jawa dan tumbuh pada masyarakat Jawa pula, karena memang orang tua saja juga asli Jawa, hehe. Dari SD sampai SMA, saya jalani di tanah kelahiran saya, tanpa banyak mengenal dunia luar.

Saya merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP),  Universitas Diponegoro (Undip) Semarang  angkatan 2010. Sekarang, saya sudah masuk semester empat. Memiliki ketertarikan pada dunia jurnalistik, dan menjadi mahasiswi Ilmu Komunikasi memberi kebanggaan tersendiri bagi saya.